Banyak
hal yang tak terduga dalam filsafat, tetapi itulah kebenaran yang sesungguhnya
dalam filsafat. Banyak orang memberikan penililaian terhadap suatu hal hanya
pada kualitas 1, 2, 3 dan seterusnya. Pengetauan dimulai dengan rasa ingin
tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan
kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu
dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak
semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas
ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian
untuk berterus terang, seberapa jauh kebenaran yang dicari telah kita jangkau,
1. Vitalisme,
merupakan kebenaran yang ditakdirkan. Manusia adalah mahkluk ciptaam Tuhan yang
sempurna. Namun, pada kesempurnaan itu terdapat kekurangan pada diri manusia. Manusia
tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain karena semua unsur yang
ada di alam ini berpasang-pasangan. Ada pagi dan malam, laki-laki dan
perempuan, senang dan duka, serta banyak lagi yang lainnya. Manusia mengalami,
menghayati, dan merasakan terhadap sesuatu
serta dibekali dua hal yaitu fatal dan fital. Fatal adalah takdir atau
kodrat dan vital adalah potensi.
2. Metafisik,
adalah kebenaran yang tersembunyi yang berfilsafat. Seperti halnya diri dan jiwa
kita. Seekor predator tidak akan berpikir mendalam jika akan memangsa sesuatu.
3. Fiksionism,
adalah kebenaran dalam mimpi. Kebenaran yang tidak bisa direncanakan oleh
manusia, karena mimpi terjadi secara sintomatik (perwujudan dari pikiran
manusia sebelumnya yg terjadi dialam bawah sadar). Berbeda dengan kejadian
diruang dan waktu yang bisa direncanakan.
4. Konektifism,
adalah kebenaran karena hubungan. Usaha mencari hubungan dari yang ada dan yang
mungkin.
5. Korespondensi,
merupakan kebenaran karena kecocokkan. Pengalaman yang menjadikan manusia
merasa cocok satu dengan yang lainnya.
6. Koherensi,
merupakan kebenaran karena logika. Kebenaran logika tidak harus cocok. Misalnya
matematika, dalam perhitungannya tidak harus diwujudkan dalam kenyataan.
7. Naturalisme
atau filsafat alam, adalah kebenaran diwaktu lampau. Filsafat ini mengkaji
tentang benda-benda seperti langit, bumi, bulan dan sebagainya. Naturalisme adalah
filsafat pertama.
8. Representatif,
adalah kebenaran yang diwakilkan. Misalnya pemilihan pemimpin melalui pejabat
dibawahnya.
9. Holisism,
adalah kebenaran yang suci.
10. Perfecsionism,
adalah kebenaran dalam kesempurnaan. Keinginan untuk memiliki sesuatu yang
sempurna. Walaupun pada akhirnya tidak seperti yang diharapkan.
11. Idealism,
merupakan kebenaran yang dicita-citakan. Semua yang ada dipikiran kita yang
dicita-citakan adalah idealisme.
Sekarang
kita sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dari
serangkaian sekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapatdiandalkan
yang merupakan titik awal dari penjelajah pengetahuan. Tanpa menetapkan
kriteria apa yang disebut benarmaka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang
diatas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka
kita tidak mungkin berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yng
disebut indah atau jelektidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.
Selasa, 30 September 2014