Senin, 06 Oktober 2014

Kebenaran Dalam Filsafat


Banyak hal yang tak terduga dalam filsafat, tetapi itulah kebenaran yang sesungguhnya dalam filsafat. Banyak orang memberikan penililaian terhadap suatu hal hanya pada kualitas 1, 2, 3 dan seterusnya. Pengetauan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh kebenaran yang dicari telah kita jangkau,
1.  Vitalisme, merupakan kebenaran yang ditakdirkan. Manusia adalah mahkluk ciptaam Tuhan yang sempurna. Namun, pada kesempurnaan itu terdapat kekurangan pada diri manusia. Manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain karena semua unsur yang ada di alam ini berpasang-pasangan. Ada pagi dan malam, laki-laki dan perempuan, senang dan duka, serta banyak lagi yang lainnya. Manusia mengalami, menghayati, dan merasakan terhadap sesuatu  serta dibekali dua hal yaitu fatal dan fital. Fatal adalah takdir atau kodrat dan vital adalah potensi.
2.     Metafisik, adalah kebenaran yang tersembunyi yang berfilsafat. Seperti halnya diri dan jiwa kita. Seekor predator tidak akan berpikir mendalam jika akan memangsa sesuatu.
3. Fiksionism, adalah kebenaran dalam mimpi. Kebenaran yang tidak bisa direncanakan oleh manusia, karena mimpi terjadi secara sintomatik (perwujudan dari pikiran manusia sebelumnya yg terjadi dialam bawah sadar). Berbeda dengan kejadian diruang dan waktu yang bisa direncanakan.
4.    Konektifism, adalah kebenaran karena hubungan. Usaha mencari hubungan dari yang ada dan yang mungkin.
5.  Korespondensi, merupakan kebenaran karena kecocokkan. Pengalaman yang menjadikan manusia merasa cocok satu dengan yang lainnya.
6.  Koherensi, merupakan kebenaran karena logika. Kebenaran logika tidak harus cocok. Misalnya matematika, dalam perhitungannya tidak harus diwujudkan dalam kenyataan.
7.  Naturalisme atau filsafat alam, adalah kebenaran diwaktu lampau. Filsafat ini mengkaji tentang benda-benda seperti langit, bumi, bulan dan sebagainya. Naturalisme adalah filsafat pertama.
8.    Representatif, adalah kebenaran yang diwakilkan. Misalnya pemilihan pemimpin melalui pejabat dibawahnya.
9.     Holisism, adalah kebenaran yang suci.
10. Perfecsionism, adalah kebenaran dalam kesempurnaan. Keinginan untuk memiliki sesuatu yang sempurna. Walaupun pada akhirnya tidak seperti yang diharapkan.
11. Idealism, merupakan kebenaran yang dicita-citakan. Semua yang ada dipikiran kita yang dicita-citakan adalah idealisme.
Sekarang kita sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dari serangkaian sekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapatdiandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajah pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria apa yang disebut benarmaka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang diatas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungkin berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan apa yng disebut indah atau jelektidak mungkin kita berbicara tentang kesenian.


Refleksi dari perkuliahan Filsafat yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit M.A
Selasa, 30 September 2014